Pemerintah telah menggulirkan Kurikulum 2013 khususnya pada sekolah-sekolah piloting yang ditunjuk. Sedangkan sekolah-sekolah yang tidak ditunjuk dapat menerapkan kurikulum baru ini secara mandiri. Penulis sendiri adalah salah satu guru di Sekolah Dasar swasta yang menerapkan kurikulum 2013 secara mandiri. Sejak awal saya tertarik dengan tulisan Saudari Tri Marhaeni P. Astuti tentang Memahami Paradigma “Indirect Learning” (Suara Merdeka, 30 April 2013). Namun saya baru memberikan tanggapan karena saya ingin mencocokkannya dengan pengalaman di lapangan setelah mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam pembelajaran.
Berdasarkan pengalaman pembelajaran, Kurikulum 2013 dirasa dapat mengurangi “verbalisme” atau dengan kata lain dapat mengurangi pembelajaran yang monoton dengan metode ceramah.  Alur pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific dapat membawa siswa menjadi subyek pembelajaran melalui praktik langsung. Pendekatan scientific yang tercermin dalam kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, menyajikan, dan  mengomunikasikan dapat mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Alur pembelajaran tersebut diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna sekaligus menanamkan nilai-nilai sikap baik spiritual maupun sosial.
Kompetensi sikap spiritual dan sosial yang tercermin dalam Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 dalam setiap Kompetensi Dasarnya tidak memiliki materi pokok yang diberikan dalam pembelajaran, tetapi diajarkan secara indirect learning. Setiap guru yang mengimplementasikan kurikulum 2013 harus mampu menyajikan materi pada KD di KI 3 dan proses pembelajaran pada KD di KI 4 yang mengarah pada pencapaian KD pada KI 1 dan 2 tanpa mengajarkan secara langsung. Guru serta merta menjadi ujung tombak untuk mencapai kompetensi sikap spiritual dan sosial pada diri setiap siswa.
Kemampuan guru dalam menghubungkan setiap materi pada KI 3 dan proses pembelajaran pada KI 4 perlu dibina, karena jika materi dan proses pembelajaran yang disajikan tidak dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial maka kompetensi sikap yang diinginkan sulit untuk dicapai. Sebagaimana kita tahu bahwa bidang sains dan teknologi masih dipimpin oleh dunia barat dimana setiap aspek dalam keilmuan yang bersifat ilmiah bersifat obyektif dan terlepas dari nilai-nilai moral. Maka pembelajaran scientific yang diterapkan pada kurikulum 2013 dikhawatirkan justru akan membawa semangat barat yang sekuler. Kekhawatiran ini muncul jika guru tidak dapat mengaitkan pembelajaran scientific dengan nilai-nilai moral ketimuran yang agamis.
Pengurangan “verbalisme” pada kurikulum 2013 perlu diartikan secara bijak. Artinya proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa perlu terus dikawal untuk dapat mencapai kompetensi sikap spiritual dan sosial. Langkah yang harus diambil oleh setiap guru adalah mencantumkan internalisasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam pembelajaran. Meskipun pembentukan sikap siswa dilaksanakan secara tidak langsung karena tidak ada materi pokok yang diajarkan, tetapi tetap diperlukan internalisasi nilai-nilai sikap.
Tugas guru bukan hanya membimbing siswa untuk dapat mengasosiasikan setiap konsep dan proses pembelajaran yang diajarkan sehingga setiap konsep dapat membentuk konektivitas yang menjadi pemahaman dan penalaran siswa. Tetapi lebih dari itu guru bertugas untuk membimbing siswa agar dapat mengasosiasikan antara konsep dan proses pembelajaran dengan nilai-nilai sikap spiritual dan sosial.
Tantangan yang dihadapi guru dalam pembentukan sikap siswa adalah adanya pengaruh dari luar, dimana banyak fenomena sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai sikap yang sedang dikembangkan. Contoh pada KD 1.1 mata pelajaran IPA : “bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya”.  Dalam Kompetensi Dasar ini terdapat nilai-nilai berupa sikap spiritual yaitu keimanan dengan menyadari kebesaran Tuhan dan mengamalkan ajaran agama yang dianut. Maka guru perlu menginternalisasikan nilai-nilai spiritual ini dalam setiap materi dan proses pembelajaran pada KI 3 dan KI 4 mata pelajaran IPA.
Tantangan dari luar adalah adanya fenomena sosial segolongan manusia yang tidak percaya kepada Tuhan yang tentu tidak sesuai dengan fitrah diciptakannya manusia dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila khususnya sila pertama. Ada pula segolongan manusia yang secara lisan beriman kepada Tuhan tetapi dalam kesehariannya tidak mencerminkan sebagai manusia yang beriman dengan meninggalkan konsekuensi dan kewajibannya sebagai manusia yang beriman. Bahkan banyak fenomena sosial kemaksiatan yang justru menunjukkan adanya ketidaktaatan terhadap ajaran agama dan sebaliknya melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Maka guru perlu dengan seksama memberikan internalisasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan agar siswa dapat memaknai setiap materi dan proses pembelajaran menjadi kesadaran untuk menjadi hamba Tuhan yang taat dan sekaligus sebagai warga negara yang memiliki sikap sosial yang luhur untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat.
Sikap Spiritual dan Sosial sebagai Bekal Generasi Muda
Fenomena sosial masyarakat yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap ajaran agama seperti perbuatan kemaksiatan, kejahatan, dan kezaliman serta sikap sosial yang tercela seperti kolusi, korupsi, suap, dan perbuatan tidak bertanggungjawab lainnya diakui atau tidak sangat sulit untuk diberantas. Menyadari hal ini maka peran guru sebagai pendidik sangat potensial untuk menyiapkan generasi muda Indonesia menuju suatu era dimana setiap elemen bangsa mampu mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan sebagaimana Pancasila sila pertama dengan semangat keberagamaan yang tinggi. Demikian pula suatu era dimana warga negara memiliki sikap sosial  yang luhur yang melandaskan setiap tindakannya pada budi pekerti, akhlak terpuji dan mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, masyarakat atau bahkan tindakan yang menjadikan bangsa ini terpuruk.
Guru memiliki posisi strategis karena dalam keseharian mereka memiliki cukup banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Guru harus memanfaatkan setiap momentum pembelajaran untuk menginternalisasikan nilai-nilai sikap spiritual dan sosial ke dalam benak sanubari siswa dan memberikan keteladanan yang baik. Setiap siswa yang masih muda belia membutuhkan model-model warga negara yang mampu menerapkan sikap spiritual dan sosial yang luhur. Keberhasilan dalam pembentukan sikap spiritual dan sosial dalam diri siswa akan membantu mewujudkan cita-cita kita bersama untuk mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat di masa yang akan datang.

Memori jangka pendek dan jangka panjang
Kemampuan manusia untuk menghafal didukung oleh kekuatan memori dalam otak. Memori merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mendapatkan kembali informasi yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya. Memori manusia terdiri dari dua jenis yaitu memori jangka pendek (short-term memory) dan memori jangka panjang  (long-term memory).
Memori jangka pendek dapat menggambarkan hasil penangkapan indra yang bersifat segera mengenai suatu objek atau ide yang terjadi sebelum bayangan objek atau ide tersebut disimpan. Sebagai contoh memori jangka pendek ketika seseorang menekan 12 digit nomor telepon di handphone tanpa melihat segera setelah membaca nomor tersebut di buku telepon. Jika nomor tersebut sering dihubungi, maka nomor tersebut akan disimpan dalam memori jangka panjang dan masih dapat diingat beberapa minggu setelah saat pertama membacanya. Hal yang terpenting untuk kita ketahui adalah bahwa pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dapat ditingkatkan melalui pengulangan.
Menghafalkan Al Quran dapat melibatkan memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek digunakan tatkala kita membaca satu ayat kemudian menghafalnya. Hafalan ini akan berpindah menjadi memori jangka panjang jika satu ayat yang dihafal ini mengalami pengulangan-pengulangan. Demikian pula untuk hafalan satu ruku’, satu halaman, atau satu surat dalam Al Quran. Tanpa adanya pengulangan-pengulangan maka hafalan hanya akan bersifat sementara karena yang terlibat adalah memori jangka pendek yang bersifat segera dan belum tersimpan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dipahami bahwa menghafal Al Quran harus menjadi rutinitas. Tugas seorang penghafal bukan hanya hafal pada saat itu. Dia harus memindahkan hafalannya menjadi hafalan jangka panjang yang dapat dengan mudah dipanggil kembali (recall) pada saat dibutuhkan. Menghafal Al Quran bukan hanya menghafal 30 juz kemudian berhenti, tetapi memelihara hafalan tersebut sehingga menjadi hafalan jangka panjang. Itu semua tidak akan tercapai tanpa adanya pengulangan.

Modalitas menghafal Al Quran
            Kita sudah mengenal berbagai modalitas belajar. Maka kita perlu mengenal pula modalitas menghafal. Modalitas belajar setidaknya ada tiga yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Modalitas menghafal setidaknya ada lima, yaitu visual, verbal, auditori, kinestetik, dan hati. Menghafal dengan melibatkan kelima unsur ini akan menghasilkan hafalan yang lebih baik.
Langkah awal adalah membaca tulisan untuk memenuhi modalitas visual. Melihat satu ayat dengan serta merta terbentuk memori jangka pendek, terbentuk bayangan ayat itu tetapi belum tersimpan. Modalitas visual dapat digabung dengan modalitas auditori, yaitu dengan melihat ayat sambil mendengarkan audionya yang banyak tersedia. Langkah kedua adalah membaca tanpa melihat tulisan untuk memenuhi modalitas verbal. Membaca ayat yang sedang dihafal tanpa melihat tulisan di mushaf karena telah memiliki memori jangka pendek. Kemudian dilakukan pengulangan-pengulangan untuk memindahkan hafalan jangka pendek menjadi hafalan jangka panjang.
Bagaimana dengan modalitas auditori? Sebenarnya kegiatan mendengarkan sudah serta merta dilakukan pada saat kita membaca tanpa melihat tulisan dan pada waktu kita melakukan pengulangan-pengulangan, yaitu ketika kita membaca tanpa melihat tulisan, secara bersamaan kita sedang mendengarkan suara hafalan kita sendiri. Sehingga semakin sering kita melakukan pengulangan, semakin sering pula kita menggabungkan modalitas verbal dan auditori yang cukup efektif. Tetapi kegiatan mendengarkan juga dapat dilakukan secara terpisah, yaitu mendengarkan suara hafalan dari rekaman atau audio yang banyak tersedia.
Lalu apa yang dimaksud dengan modalitas kinestetik dalam menghafal? Modalitas ini dapat dilakukan dengan menuliskan ayat yang dihafal. Langkah ini cukup efektif karena pada saat kita menuliskan ayat tersebut, sebenarnya kita sedang melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu menulis, melihat tulisan kita sendiri, dan membaca dalam hati ayat yang kita tulis atau bahkan membaca secara jahr apa yang kita tulis. Jika kita membayangkan menghafal ayat per ayat kemudian menuliskannya, mungkin terbersit rasa enggan karena berarti harus menulis ribuan ayat. Tetapi langkah ini sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin untuk kita lakukan karena sudah pernah dilakukan hampir 15 abad yang lalu oleh para sahabat khususnya sahabat Zaid bin Tsabit r.a.
Membaca dalam hati ayat yang ditulis akan mengantarkan pada kemampuan untuk pengulangan hafalan dalam hati. Pengulangan hafalan dalam hati adalah kegiatan mental yang cukup unik dan membutuhkan pembiasaan, yang dapat kita lakukan pada saat kita mendengarkan murottal, pada saat kita sedang menjadi makmum, atau pada saat kita mengikuti kegiatan tasmi’ Al Quran. Pembiasaan ini akan menjadikan kita merasa nyaman dengan hafalan kita, bahkan ketika kita sedang mengendarai kendaraan bermotor sekalipun.
Membaca dan menghafal dalam hati adalah suatu kemampuan yang membuktikan bahwa kita sudah melibatkan modalitas hati dalam menghafal Al Quran. Lebih penting dari itu, melibatkan hati dalam menghafal adalah membangun keikhlasan dalam hati kita, membangun kekuatan ruhiyah dalam menghafal, dan menghafal dengan motivasi intrinsik dari dalam hati kita sendiri sebagai perwujudan iman dan taqwa, sehingga upaya menghafal Al Quran yang kita lakukan bukan hanya sebatas kegiatan visual yang berhenti di mata, bukan hanya kegiatan auditori yang berhenti di telinga, bukan hanya kegiatan verbal yang berhenti di lisan, dan bukan pula kegiatan kinestetik yang hanya berhenti di tulisan dan suara.          

Kejadian mengggelitik beberapa waktu lalu di Ajibarang. Dari berita di sebuah media, dikabarkan sejumlah siswa SD menjajal ilmu kebal yang diperoleh dari seseorang. Caranya dengan dipukul beramai-ramai. Alhasil karena ilmu kebalnya itu aspal, asli tapi palsu, kontan dia babak belur. Yang akhir cerita masalah itu berujung di tangan polisi dengan delik penipuan.
Miris, tapi itulah sebagian perilaku anak –anak sekarang. Cenderung berpikir instan. Hasil cepat dirasakan. Mencobai mengakali proses. Barang kali ini akibat kemajuan zaman. Efek tehnologi yang serba cepat. Apapun yang kita cari di internet misalnya, sekejap akan muncul ratusan atau ribuan informasi. Salah dalam pola pengasuhan bisa juga sebagai penyebabnya. Anak cenderung dimanjakan dan dituruti semua kemauan. Tanpa berpikir apakah itu membawa kebaikan bagi anak kelak.
Tugas sekolah diantaranya yang penting adalah menyuntikkan virus anti ‘keinstanan’ini. Mengajarkan sekaligus melatih ilmu bagaimana menikmati proses. Sesuatu itu butuh usaha, prihatin, dan laku ikhtiar. Sejarah orang –orang sukses dan hebat di bidang apapun punya pola yang sama menuju sukses. Mereka melewati cara dan di rel yang benar. Mereka adalah orang yang teguh memegang prinsip keberhasilan. Cita-cita besar-usaha keras-istiqomah-sukses. Demikian pula orang-orang gagal mempunyai polanya tersendiri. Malaslah, dipastikan engkau akan tertindas dan terlindas. Itu salah satu pola rumusnya.
Menikmati proses. Ini yang saya lihat di balik program sukses Ujian Nasional (UN) kelas enam. Banyak sudah program inovatif dijalankan. Dari akademis, program ruhiah dan motivasi. Agenda waktu mensukseskan UN dari pagi sampai sore, bahkan di rumah begitu terjadwal. Jangan tanyakan gurunya. Saya tidak kuasa menjawabnya. Nilai UN yang maksimal itu harapan semua. Dan seharusnya memang berkorelasi kuat usaha dengan hasil.
Tetapi sebenarnya ada nilai lain yang sangat perlu kita harapkan. Nilai menikmati proses itu. Nilai perjuangan dan kegigihan mencapai asa dan cita. Itulah nanti yang diperlukan jangka panjang. Nilai UN paling banter untuk syarat sekolah lanjutan. Sedang nilai menikmati proses tadi syarat menang di kehidupan ke depan yang makin sarat tantangan. Bukahkah sekelas nabi juga harus melewati proses dalam dakwahnya? Dan sejarah mencatat di titik tertentu dari proses itu nabi mendapat kemenangan.
Saya contohkan lagi sebuah kisah nyata dari kekuatan menikmati sebuah proses. Tentu kamu mengenal 7up. Merk softdrink rasa jeruk nipis ini terbilang cukup populer di penjuru dunia. Dibalik ketenaran merk 7up rupanya ada kisah yang sangat menarik yang bisa kita petik dan kit tiru dari sejarah 7up yakni dari arti sebuah kegigihan.
Awal mulanya perusahaan ini mengambil nama 3up sebagai merek sodanya. Namun sayangnya, usaha ini gagal. Kemudian si pendiri kembali memperjuangkan bisnisnya dan mengganti namanya dengan 4up. Malangnya, produk ini pun bernasib sama dengan sebelumnnya. Selanjutnya dia berusaha bangkit lagi dan mengganti lagi namanya menjadi 5up. Gagal lagi. Kecintaanya pada soda membuatnya tak menyerah dan berusaha lagi dengan nama baru 6up. Produk ini pun gagal dan dia pun menyerah. Beberapa tahun kemudian, orang lain muncul dan membuat soda dengan nama 7up dan ternyata mendapat sukses besar.
Kita tidak tahu dititik mana proses itu akan menjelma berbuah hasil. Maka selamat menikmati proses itu dan jangan lupakan menularkannya pada siswa kita. Dengan begitu mereka menjadi orang yang gigih di berbagai medan, tangguh di hadapan berbagai godaan. Semoga  menjadi investasi kita juga kelak di akherat.


Pendidikan memang penting. Sekolah tidak penting. Saya tidak membutuhkan sekolah. Begitu juga kalian. Saya adalah buktinya. Saya meninggalkan sekolah karena bangku sekolah tidak membantu saya. Saya merasa bahwa saya hanya membuang waktu.
Saya mengembangkan pendekatan sendiri terhadap pembelajaran. Saya belajar otodidak komputer. Sekarang usia saya 24 tahun. Saat ini menjadi manajer di Apple Computer, pembicara, dan pengajar di bidang pengujian perangkat lunak di sejumlah laboratorium dan universitas top di berbagai negara.
Saya belajar, tapi saya tidak sekolah. Sekolah hanya sementara tapi pendidikan tidak. Jika kalian ingin berhasil dalam hidup, temukanlah sesuatu yang membuat kalian takjub dan pelajarilah. Jangan menunggu sampai seseorang mengajari kalian. Semangat kalian yang berkobar-kobar akan menarik guru-guru untuk datang kepada kalian.
Jangan terkejut membaca tulisan barusan. Apalagi sampai menampakkan wajah merah dan marah. Itu sepenggal ide dari James Marcus bach dalam buku menariknya “Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat” dari penerbit Kaifa Bandung. Gagasannya blak-blakan, nakal dan liar. Terkesan provokati tapi sesungguhnya sangat inspiratif. Bach ingin menunjukkan bahwa upaya untuk meraih kecerdasanlah yang membuat kita cerdas, bukan hanya IQ yang dibawa sejak lahir, atau sederet ijasah formal.
Sebuah autokritik menusuk dan menohok bagi yang berkecimpung di pendidikan. Apalagi kalau kita lihat fenomenanya :
  • Apakah sekolah benar-benar memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi anak. Tanyakan sepulang sekolah ke anak apa yang barusan diajarkan oleh guru? Jawaban yang meluncur “gatau” atau “wow asyik banget, Yah”.
  • Apakah sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Lihatlah siswa begitu senang atau sedih ketika diumumkan libur atau gurunya tak masuk. Wajah mereka gelisah pengalaman belajar menariknya usai sudah atau justur sumringah  begitu bel pulang, seolah terbebas dan terlepas dari penjara bernama kelas.
  • Apakah sekolah mampu mentrasfer nilai ke anak untuk mampu memecahkan persoalan disekitar mereka dan masa depannya. Nyatanya fakta dan data hasil pendidikan kita saat ini ada sekitar 750.000 pengangguran jebolan diploma dan sarjana. Jumlahnya akan membengkak jika ditambahkan lulusan SD sampai SLTA.
  • Lebih serius lagi apakah sekolah memfasilitasi bekal hingga ilmu anak bermanfaat. Kenapa? Cerita nyata bahwa pelaku kejahatan dengan resiko dan eskalasi tinggi justru dilakukan oleh kaum terdidik. Kasus korupsi, narkoba, seks oleh kalangan berpendidikan di negeri ini cukup sudah membuat goyang khas dan stabilitas negara dan goyah imunitas masyarakat kita. Dan, tinggal siap siap seperti dikatakanThomas Licona suatu bangsa menuju jurang kehancurannya.
Perlu sebuah perubahan. Tak sekedar gerakan tapi sampai gebrakan. Pandangan James Markus Bach tak salah tetapi juga tak semuanya benar. Kita buktikan sekolah pun bisa sebagai “surganya anak”. Rumah utama yang tiada dua. Bagaimana? Sabar dulu, insya Allah di tulisan depan kita diskusi langkah-langkahnya dari hal-hal substansi sampai suplementasi. Sebagai kata pengatup dan pengentup, baca keras-keras dalam hati kalimat berikut :
“Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga negara yang punya kepedulian besar dapat mengubah dunia. Justeru sebetulnya, inilah satu-satunya hal yang telah mengubah dunia ” (Margaret Mead)
Salah satu pengertian pendidikan yang sangat umum dikemukakan oleh Driyarkara (1980) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani harus diwujudkan di dalam seluruh proses atau upaya pendidikan. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. Tingkat satuan pendidikan yang dianggap sebagai dasar pendidikan adalah sekolah dasar. Di sekolah inilah anak didik mengalami proses pendidikan dan pembelajaran. Dan, secara umum pengertian sekolah dasar dapat kita katakan sebagai institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dasar dan mendasari proses pendidikan selanjutnya. Pendidikan ini diselenggarakan untuk anak-anak yang telah berusia tujuh tahun dengan asumsi bahwa anak seusia tersebut mempunyai tingkat pemahaman dan kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan dirinya. 

Pendidikan dasar memang diselenggarakan untuk memberikan dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi anak didik. Pendidikan dasar inilah yang selanjutnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas diri anak didik. Kita seharusnya memahami pengertian sekolah dasar sehingga dapat mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan di tingkat ini. Walaupun, kita pengenal pendidikan anak usia dini (PAUD), tetapi setidaknya mereka lebih mengedepankan untuk melatih anak bersosialisasi dengan teman dan masyarakat, bukan untuk mengikuti pendidikan dan pembelajaran yang mengarah pada pemahaman pengetahuan. Tujuan Pendidikan Dasar Berkenaan dengan tujuan operasional pendidikan SD, dinyatakan di dalam Kurikulum Pendidikan Dasar yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan dan ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. Tujuan pendidikan Sekolah Dasar dapat diuraikan secara terperinci, seperti berikut : Memberikan Bekal Kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung. Memberikan Pengetahuan dan Ketrampilan Dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya. Mempersiapkan Siswa untuk Mengikuti Pendidikan di SLTP. Sekolah Dasar Sebagai Pendidikan Dasar Pengertian sekolah dasar dapat dikatakan sebagai kegiatan mendasari tiga aspek dasar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Ketiga aspek ini merupakan dasar atau landasan pendidikan yang paling utama. Hal ini karena ketiga aspek tersebut merupakan hal paling hakiki dalam kehidupan. Kita membutuhkan sikap-sikap hidup yang positif agar kehidupan kita lancar.

Kita juga membutuhkan dasar-dasar pengetahuan agar setiap kali berinteraksi tidak ketinggalan informasi. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah keterampilan. Di sekolah dasar, kegiatan pembekalan diberikan selama enam tahun berturut-turut. Pada saat inilah anak didik dikondisikan untuk dapat bersikap sebaik-baiknya. Pengertian sekolah dasar sebagai basis pendidikan harus benar-benar dapat dipahami oleh semua orang sehingga mereka dapat mengikuti pola pendidikannya. Tentunya, dalam hal ini, kegiatan pendidikan dan pembelajarannya mengedepankan landasan bagi kegiatan selanjutnya. Tanpa pendidikan dasar, tentunya sulit bagi kita untuk memahami konsep-konsep baru pada tingkatan lebih tinggi. 

Sumber : http://www.artikelbagus.com/2012/03/artikel-pendidikan-sekolah-dasar.html
Sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam hendaknya kita mengetahui sejauh mana pendidikan Islam itu sendiri. Tidak sedikit orang yang mengaku beragama Islam akan tetapi pengetahuan tentang pendidikan Islam sangat minim yang berakibat tindakan dan tingkah lakunya tidak layak disebut sebagai orang Islam. Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya. Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. (QS. Al Mujadilah (58) : 11) Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan. Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang beakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.” Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.” Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT.

Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah. Pentingnya Pendidikan Islam Pendidikanmerupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan. Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal. Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103) Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh. Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan.

Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari. Kesinambungan dalam Pendidikan Islam Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyahmerupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan. Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.

Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu: 1. Istiqomah Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar, QS. Hud (11) : 112, QS. Al Kahfi (18) : 28 2. Disiplin dalam tanggung jawab Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah. 3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.

Sumber : http://www.artikelbagus.com/2012/04/pendidikan-islam.html