Kunang – kunang, hendak kemana….
Kelap – kelip indah sekali….
Gemerlap, bersinar seperti bintang di malam hari..

Lagu tersebut sering saya nyanyikan sewaktu TK dulu. Lagu tersebut menceritakan tentang serangga kecil yang mampu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya yang terlihat jelas saat malam hari. Kunang – kunang merupakan jenis serangga dari golongan Lampyridae yang merupakan famili dalam ordo kumbang Coleoptera, diperkirakan memiliki sekitar 2000 spesies. Kunang – kunang merupakan hewan berkaki enam yang mengalami metamorfosis sempurna, yaitu mengalami siklus hidup dengan beberapa tahapan yang berbeda, yaitu : telur, larva, pupa, dan imago.

Kunang – kunang dapat dijumpai di seluruh daerah tropis. Kunang – kunang biasanya tinggal di antara semak – semak, tetapi ada juga yang ditemukan di rawa atau hutan basah yang mempunyai banyak persediaan makanan untuk larvanya.

Kunang – kunang merupakan salah satu hewan yang memiliki keunaikan, karena dapat mengeluarkan cahaya dari tubuhnya. Cahaya pada kunang – kunang berasal dari perut bagian bawah. Cahaya dihasilkan oleh lapisan tubuhnya yang berisi zat kimia khusus yang disebut luciferin dan enzim yang disebut luciferase. Untuk menghasikan cahayanya, dua zat kimia ini bercampur dan melepaskan energinya dalam bentuk cahaya. Dan ketika oksigen masuk dalam campuran ini, molekul akan kembali stabil sehingga cahaya pun menjadi padam.

Cahaya pada kunang – kunang digunakan sebagai sarana komunikasi antara kunang –kunang jantan dan kunang – kunang betina, dengan pola irama kerlipan tertentu yang menyerupai sandi morse yang dipakai pada telegram. Sejak mulai menetas, setiap kunang – kunang mengetahui bagaimana cara berkirim pesan dan mengetahui isi pesan yang dikirim kunang – kunang lain.

Sistem desain biokimia dalam tubuh kunang – kunang ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia sengaja diciptakan secara khusus sebagaimana Allah SWT telah menganugerahkan kepada semua makhluk hidup dengan cirri mereka masing – masing. Allah juga telah menganugerahkan kepada kunang – kunang cara menghasilkan cahaya. Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa makhluk ini sengaja diciptakan dengan desain khusus yang sangat luar biasa, yang menunjukkan kepada kita akan kekuasaan Allah Sang Yang Maha Pencipta.
“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang membentuk Rupa, Yang mempunyai Nama – nama yang paling Baik. Bertasbih kepada – Nya apa yang ada di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. Al Hasyr, 59 : 24)

Kini sudah sangat jarang saya jumpai kunang – kunang di petang hari, seiring dengan jarangnya lagu “Kunang – kunang” dinyanyikan oleh anak kecil. Menurut pakar Biologi, kehadiran kunang – kunang di suatu tempat, bisa dijadikan sebagai salah satu parameter bahwa di lingkungan tersebut belum tercemar. Apakah ketidakhadiran kunang – kunang di lingkungan saya merupakan indikasi bahwa lingkungan di sekitar kini sudah mulai tercemar?

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Anggun Bugarinda Putri, S.Si. Guru Kelas 1 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto

Generasi yang ditakuti para Zionis
Mari kita pehatikan fiman Allah swt di dalam Alquran surat Al Hasyr ;لأنتم أشد رهبة في صدورهم من الله ذلك
بأنهم قوم لايفقهون
“sungguh kalian lebih ditakuti di dalam jiwa mereka (Yahudi) dari pada mereka takut kepada Allah disebabkan mereka kaum yang bodoh”
wahai para pendidik bangkitlah dan bangkitkan generasi Islam untuk kekuatan mengembalikan ‘izzatul Islam wal muslimin!
Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Bertaubatlah, sebelum datang kematian!

Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak diragukan, lari atau berjalan kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa.
Bukankah  kematian diciptakan bertujuan menguji umat manusia? siapakah terbaik amal perbuatanya di dunia?
Jangan khawatir dan galau dengan adanya sesuatu yang pasti terjadi, mau atau tidak tetap dihadapi. yang perlu dikhawatirkan adalah kehidupan setelah kematian. Modal yang sudah disiapkan, bukan berupa harta yang melimpah, istri yang cantik, keturunan  yang dibangga-banggakan, jabatan yang tinggi. bahkan semua itu melupakan manusia akan kematian yang tidak ada seorangpun yang bernyawa luput darinya
Alam barzakh.
Alam barzakh atau alam kubur merupakan manzilatun min manazilil akhiroh atau satu  pijakan dari pijakan alam akhirat yang akan dilalui oleh setiap manusia sebelum menghadapi hisab (perhitungan). Terangilah alam barzakh dengan memperbanyak sholat sunnah, dzikir, membaca Alquran dan hindarilah siksaanya dengan meninggalkan maksiat baik lahir maupun batin. (lihatlah :http://www.youtube.com/watch?v=uAL_glmbF1c&feature=related)
Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak diragukan, lari atau berjalan kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa.
Bukankah  kematian diciptakan bertujuan menguji umat manusia? siapakah terbaik amal perbuatanya di dunia?
Jangan khawatir dan galau dengan adanya sesuatu yang pasti terjadi, mau atau tidak tetap dihadapi. yang perlu dikhawatirkan adalah kehidupan setelah kematian. Modal yang sudah disiapkan, bukan berupa harta yang melimpah, istri yang cantik, keturunan  yang dibangga-banggakan, jabatan yang tinggi. bahkan semua itu melupakan manusia akan kematian yang tidak ada seorangpun yang bernyawa luput darinya
Alam barzakh.
Alam barzakh atau alam kubur merupakan manzilatun min manazilil akhiroh atau satu  pijakan dari pijakan alam akhirat yang akan dilalui oleh setiap manusia sebelum menghadapi hisab (perhitungan). Terangilah alam barzakh dengan memperbanyak sholat sunnah, dzikir, membaca Alquran dan hindarilah siksaanya dengan meninggalkan maksiat baik lahir maupun batin.
Alam makhsyar
Setelah dunia ini hancur dengan peristiwa qiyamah yang mengejutkan dan membuat semua yang bernyawa terhentak, maka manusia dikumpulkan di mahsyar (tempat berkumpul)
Allah SWT berulang kali mengingatkan umat manusia dengan adanya pertemuan disana seperti di dalam Qs. Al-An’am ; 38, Al-Anfal;36 dan Al-Furqon ; 34.
Sudahkah kita berpikir  tragedi yang akan menimpa dan maha dahsyat? Posisi matahari yang sangat panas berada kurang lebih 2 mil dari tempat berkumpulnya makhluk Allah SWT. ada yang tenggelam dengan keringatnya disebabkan maksiat yang dilakukan di dunia, banyak menentang syariat-Nya.
Bertaubatlah, bertaubatlah, bertaubatlah sebelum matahari terbit dari barat!
Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak diragukan, lari atau berjalan kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa.
Bukankah  kematian diciptakan bertujuan menguji umat manusia? siapakah terbaik amal perbuatanya di dunia?
Jangan khawatir dan galau dengan adanya sesuatu yang pasti terjadi, mau atau tidak tetap dihadapi. yang perlu dikhawatirkan adalah kehidupan setelah kematian. Modal yang sudah disiapkan, bukan berupa harta yang melimpah, istri yang cantik, keturunan  yang dibangga-banggakan, jabatan yang tinggi. bahkan semua itu melupakan manusia akan kematian yang tidak ada seorangpun yang bernyawa luput darinya
Alam barzakh.
Alam barzakh atau alam kubur merupakan manzilatun min manazilil akhiroh atau satu  pijakan dari pijakan alam akhirat yang akan dilalui oleh setiap manusia sebelum menghadapi hisab (perhitungan). Terangilah alam barzakh dengan memperbanyak sholat sunnah, dzikir, membaca Alquran dan hindarilah siksaanya dengan meninggalkan maksiat baik lahir maupun batin.
Alam makhsyar
Setelah dunia ini hancur dengan peristiwa qiyamah yang mengejutkan dan membuat semua yang bernyawa terhentak, maka manusia dikumpulkan di mahsyar (tempat berkumpul)
Allah SWT berulang kali mengingatkan umat manusia dengan adanya pertemuan disana seperti di dalam Qs. Al-An’am ; 38, Al-Anfal;36 dan Al-Furqon ; 34.
Sudahkah kita berpikir  tragedi yang akan menimpa dan maha dahsyat? Posisi matahari yang sangat panas berada kurang lebih 2 mil dari tempat berkumpulnya makhluk Allah SWT. ada yang tenggelam dengan keringatnya disebabkan maksiat yang dilakukan di dunia, banyak menentang syariat-Nya.
Bertaubatlah, bertaubatlah, bertaubatlah sebelum matahari terbit dari barat!
Alam makhsyar
Setelah dunia ini hancur dengan peristiwa qiyamah yang mengejutkan dan membuat semua yang bernyawa terhentak, maka manusia dikumpulkan di mahsyar (tempat berkumpul)
Allah SWT berulang kali mengingatkan umat manusia dengan adanya pertemuan disana seperti di dalam Qs. Al-An’am ; 38, Al-Anfal;36 dan Al-Furqon ; 34.
Sudahkah kita berpikir  tragedi yang akan menimpa dan maha dahsyat? Posisi matahari yang sangat panas berada kurang lebih 2 mil dari tempat berkumpulnya makhluk Allah SWT. ada yang tenggelam dengan keringatnya disebabkan maksiat yang dilakukan di dunia, banyak menentang syariat-Nya.
Bertaubatlah, bertaubatlah, bertaubatlah sebelum matahari terbit dari barat!

Ustad salimudin, L.C

Islam adalah syariat yang mulia yang dibawa oleh para nabi yang mulia dari Dzat yang Maha Mulia (Al-Kariim) mengajarkan penganutnya serta orang yang mencintai syariat ini untuk selalu berbuat kebaikan.
Kebaikan di dalam Islam tidak hanya baik menurut pandangan atau tinjauan manusia semata tetapi harus dilandasi dengan keridhoan dan kecintaan dari Dzat yang Maha Al-Waduud (Maha mencintai), sebagaimana definisi dari ibadah merupakan segala sesuatu baik perkataan,perbuatan dan juga yang terbersit dalam hati yang diridhoi dan dicintai Allah SWT.
Beragam kebaikan di dalam syariat Islam dari yang tertinggi berupa Jihad fi sabilillah hingga menyingkirkan duri atau sampah dari jalanan merupakan kebaikan sebagai investasi di dunia menuju kebahagiaan di akhirat kelak.
Rasulullah saw dalam sabdanya : “Senyummu di depan saudarmu adalah shodakoh” inilah salah satu bukti dari bermacam-macam kebaikan yang sangat bernilai di dalam ajaran Islam di saat agama lain tidak menganggapnya sebagai kebaikan (hasanah).
Mampukah kita tersenyum karena Allah?
Siapakah yang menjadikan setiap orang mampu tersenyum?
Mengapa masih ada orang yang tidak mampu tersenyum di depan sesama manusia?
Senyumlah untuk mengepresikan kebahagiaan dan demi kebahagiaan orang lain, karena Allah SWT akan membalas sekecil apapun karya dan usaha hamba-Nya..

Kejadian mengggelitik beberapa waktu lalu di Ajibarang. Dari berita di sebuah media, dikabarkan sejumlah siswa SD menjajal ilmu kebal yang diperoleh dari seseorang. Caranya dengan dipukul beramai-ramai. Alhasil karena ilmu kebalnya itu aspal, asli tapi palsu, kontan dia babak belur. Yang akhir cerita masalah itu berujung di tangan polisi dengan delik penipuan.
Miris, tapi itulah sebagian perilaku anak –anak sekarang. Cenderung berpikir instan. Hasil cepat dirasakan. Mencobai mengakali proses. Barang kali ini akibat kemajuan zaman. Efek tehnologi yang serba cepat. Apapun yang kita cari di internet misalnya, sekejap akan muncul ratusan atau ribuan informasi. Salah dalam pola pengasuhan bisa juga sebagai penyebabnya. Anak cenderung dimanjakan dan dituruti semua kemauan. Tanpa berpikir apakah itu membawa kebaikan bagi anak kelak.
Tugas sekolah diantaranya yang penting adalah menyuntikkan virus anti ‘keinstanan’ini. Mengajarkan sekaligus melatih ilmu bagaimana menikmati proses. Sesuatu itu butuh usaha, prihatin, dan laku ikhtiar. Sejarah orang –orang sukses dan hebat di bidang apapun punya pola yang sama menuju sukses. Mereka melewati cara dan di rel yang benar. Mereka adalah orang yang teguh memegang prinsip keberhasilan. Cita-cita besar-usaha keras-istiqomah-sukses. Demikian pula orang-orang gagal mempunyai polanya tersendiri. Malaslah, dipastikan engkau akan tertindas dan terlindas. Itu salah satu pola rumusnya.
Menikmati proses. Ini yang saya lihat di balik program sukses Ujian Nasional (UN) kelas enam. Banyak sudah program inovatif dijalankan. Dari akademis, program ruhiah dan motivasi. Agenda waktu mensukseskan UN dari pagi sampai sore, bahkan di rumah begitu terjadwal. Jangan tanyakan gurunya. Saya tidak kuasa menjawabnya. Nilai UN yang maksimal itu harapan semua. Dan seharusnya memang berkorelasi kuat usaha dengan hasil.
Tetapi sebenarnya ada nilai lain yang sangat perlu kita harapkan. Nilai menikmati proses itu. Nilai perjuangan dan kegigihan mencapai asa dan cita. Itulah nanti yang diperlukan jangka panjang. Nilai UN paling banter untuk syarat sekolah lanjutan. Sedang nilai menikmati proses tadi syarat menang di kehidupan ke depan yang makin sarat tantangan. Bukahkah sekelas nabi juga harus melewati proses dalam dakwahnya? Dan sejarah mencatat di titik tertentu dari proses itu nabi mendapat kemenangan.
Saya contohkan lagi sebuah kisah nyata dari kekuatan menikmati sebuah proses. Tentu kamu mengenal 7up. Merk softdrink rasa jeruk nipis ini terbilang cukup populer di penjuru dunia. Dibalik ketenaran merk 7up rupanya ada kisah yang sangat menarik yang bisa kita petik dan kit tiru dari sejarah 7up yakni dari arti sebuah kegigihan.
Awal mulanya perusahaan ini mengambil nama 3up sebagai merek sodanya. Namun sayangnya, usaha ini gagal. Kemudian si pendiri kembali memperjuangkan bisnisnya dan mengganti namanya dengan 4up. Malangnya, produk ini pun bernasib sama dengan sebelumnnya. Selanjutnya dia berusaha bangkit lagi dan mengganti lagi namanya menjadi 5up. Gagal lagi. Kecintaanya pada soda membuatnya tak menyerah dan berusaha lagi dengan nama baru 6up. Produk ini pun gagal dan dia pun menyerah. Beberapa tahun kemudian, orang lain muncul dan membuat soda dengan nama 7up dan ternyata mendapat sukses besar.
Kita tidak tahu dititik mana proses itu akan menjelma berbuah hasil. Maka selamat menikmati proses itu dan jangan lupakan menularkannya pada siswa kita. Dengan begitu mereka menjadi orang yang gigih di berbagai medan, tangguh di hadapan berbagai godaan. Semoga  menjadi investasi kita juga kelak di akherat.


Pendidikan memang penting. Sekolah tidak penting. Saya tidak membutuhkan sekolah. Begitu juga kalian. Saya adalah buktinya. Saya meninggalkan sekolah karena bangku sekolah tidak membantu saya. Saya merasa bahwa saya hanya membuang waktu.
Saya mengembangkan pendekatan sendiri terhadap pembelajaran. Saya belajar otodidak komputer. Sekarang usia saya 24 tahun. Saat ini menjadi manajer di Apple Computer, pembicara, dan pengajar di bidang pengujian perangkat lunak di sejumlah laboratorium dan universitas top di berbagai negara.
Saya belajar, tapi saya tidak sekolah. Sekolah hanya sementara tapi pendidikan tidak. Jika kalian ingin berhasil dalam hidup, temukanlah sesuatu yang membuat kalian takjub dan pelajarilah. Jangan menunggu sampai seseorang mengajari kalian. Semangat kalian yang berkobar-kobar akan menarik guru-guru untuk datang kepada kalian.
Jangan terkejut membaca tulisan barusan. Apalagi sampai menampakkan wajah merah dan marah. Itu sepenggal ide dari James Marcus bach dalam buku menariknya “Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat” dari penerbit Kaifa Bandung. Gagasannya blak-blakan, nakal dan liar. Terkesan provokati tapi sesungguhnya sangat inspiratif. Bach ingin menunjukkan bahwa upaya untuk meraih kecerdasanlah yang membuat kita cerdas, bukan hanya IQ yang dibawa sejak lahir, atau sederet ijasah formal.
Sebuah autokritik menusuk dan menohok bagi yang berkecimpung di pendidikan. Apalagi kalau kita lihat fenomenanya :
  • Apakah sekolah benar-benar memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi anak. Tanyakan sepulang sekolah ke anak apa yang barusan diajarkan oleh guru? Jawaban yang meluncur “gatau” atau “wow asyik banget, Yah”.
  • Apakah sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Lihatlah siswa begitu senang atau sedih ketika diumumkan libur atau gurunya tak masuk. Wajah mereka gelisah pengalaman belajar menariknya usai sudah atau justur sumringah  begitu bel pulang, seolah terbebas dan terlepas dari penjara bernama kelas.
  • Apakah sekolah mampu mentrasfer nilai ke anak untuk mampu memecahkan persoalan disekitar mereka dan masa depannya. Nyatanya fakta dan data hasil pendidikan kita saat ini ada sekitar 750.000 pengangguran jebolan diploma dan sarjana. Jumlahnya akan membengkak jika ditambahkan lulusan SD sampai SLTA.
  • Lebih serius lagi apakah sekolah memfasilitasi bekal hingga ilmu anak bermanfaat. Kenapa? Cerita nyata bahwa pelaku kejahatan dengan resiko dan eskalasi tinggi justru dilakukan oleh kaum terdidik. Kasus korupsi, narkoba, seks oleh kalangan berpendidikan di negeri ini cukup sudah membuat goyang khas dan stabilitas negara dan goyah imunitas masyarakat kita. Dan, tinggal siap siap seperti dikatakanThomas Licona suatu bangsa menuju jurang kehancurannya.
Perlu sebuah perubahan. Tak sekedar gerakan tapi sampai gebrakan. Pandangan James Markus Bach tak salah tetapi juga tak semuanya benar. Kita buktikan sekolah pun bisa sebagai “surganya anak”. Rumah utama yang tiada dua. Bagaimana? Sabar dulu, insya Allah di tulisan depan kita diskusi langkah-langkahnya dari hal-hal substansi sampai suplementasi. Sebagai kata pengatup dan pengentup, baca keras-keras dalam hati kalimat berikut :
“Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga negara yang punya kepedulian besar dapat mengubah dunia. Justeru sebetulnya, inilah satu-satunya hal yang telah mengubah dunia ” (Margaret Mead)

Oleh : Emas Satriati S, S,Pd
”Nak..panggil bunda Felma dengan lembut”. Felma tetap asyik menonton film kartun kesukaannya tanpa mengindahkan panggilan ibunya.”Nak”..suara ibu lebih keras memanggil Felma. “Tolong ibu nak., ambilkan segelas air putih”.Tak disangka, Felma pun tak bergeming dari tempat duduknya dan mengacuhkan ibunya. Bukan hanya itu, “Kenapa sih manggil-manggil terus, emangnya ibu nggak bisa ambil sendiri apa! Jawab Felma dengan nada kesal. Sang Ibu pun terpaksa bangun dari tempat tidurnya dan berusaha berdiri dengan sekuat tenaga menuju dapur untuk mengambil segelas air minum guna minum obat karena sedang sakit. Demikian sepenggal kisah Felma dan Ibunya..
Ayah dan bunda tercinta.., tentu tidak satupun orangtua yang menginginkan memiliki anak seperti Felma, terlebih Felma yang sudah duduk di kelas 4 SD, tak sepatutnya bersikap demikian. Felma adalah gadis kecil yang kurang terbangun rasa empatinya sehingga tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.Tetapi apakah Felma bisa menjadi sedemikian rupa karena sendirinya?
Rasa empati sangat diperlukan oleh setiap anak untuk kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu sangatlah penting untuk membangun/menumbuhkan empati anak sejak kecil. Empati sendiri tempatnya adalah di hati, sehingga diperlukan pembiasaan agar bisa menjadi karakter yang akan terus dibawa anak hingga tua. Coba bayangkan jika seorang anak tidak memiliki rasa empati sejak kecil maka saat dewasa dan menjadi tua pasti akan menjadi orang yang bermasalah di lingkungannya. Ayah dan bunda tercinta.. hal ini bukanlah hal yang bisa dianggap sepele bukan? Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan rasa empati :

1. Bermain bersama
Pada umumnya anak berusia 2-3 tahun mulai berminat pada permainan simbolik dan khayalan. Kembangkan imajinasi sedemikian rupa saat bermain bersamanya. Misalnya,bermain dokter-dokteran, dengan berpura-pura sakit , biarkan si kecil beraksi dengan bantuannya untuk menyembuhkan pasien.

2. Membantu tugas ringan di rumah
Sikecil, meski baru berumur 2 tahun,bisa kita ajak untuk mulai membantu mengerjakan pekerjaan ringan yang bermanfaat di rumah. Tentu ada trik seperti pujian sebelum meminta bantuan. Bila kita memujinya, dengan senang hati ia akan melakukan apa yang kita minta. Saat anak mau melakukan dan senang untuk menolong maka hatinya mulai tumbuh rasa empati. Sikap mau membantu dengan sukarela berkembang dengan sendirinya sehingga ia terbiasa ringan tangan sedari kecil. 

3. Membacakan Cerita
Pada umumnya anak senang mendengarkan dongeng, bahkan kita yang sudah dewasa juga senang mendengarkan cerita bukan?Jadikanlah mendongeng sebagai aktivitas harian yang menyenangkan saat bersama si kecil. Melalui kisah-kisah yang dapat menyentuh hati, memberikan kesempatan kita untuk mengajari si kecil berempati lewat tokoh cerita. Hal ini seperti apa yang terkandung dalam Al Qur’anul Kariim, banyak kisah-kisah yang dapat dijadikan pelajaran bagi manusia agar manusia menjadi insan yang mulia.

4. Menjenguk Orang Sakit
Kegiatan menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan rasa empati. Saat anak merasa sedih turut prihatin di dalam dadanya melihat kondisi nenek yang sedang terbaring sakit dan membawakan kue agar nenek senang serta mendoakan agar sembuh adalah bentuk rasa empati. Agama Islam juga mengajarkan agar kita menjenguk orang yang sakit, sebagai bentuk pengamalan akhlakul kariimah. Jika sejak kecil sudah ditanamkan rasa empati, kelak, ia pun peka atas penderitaan orang yang sedang sakit.

5. Memelihara Hewan atau Tanaman
Ajak anak sejak dini untuk menyayangi mahluk hidup seperti hewan dan tumbuhan. Baik hewan ataupun tumbuhan adalah makhluk yang sama-sama diciptakan oleh Allah. Ajak anak menyayangi hewan peliharaan. Bagaimana anak belajar bertanggung jawab memberi makan dan minum hewan peliharaannya adalah cara untuk belajar mengelola empatinya kelak. Atau jika anak memiliki hobi bercocok tanam. Jika anak mengajak berbicara/berkomunikasi dengan tanaman, memberinya pupuk dan tak lupa rutin menyiraminya, adalah langkah pembelajaran empati yang bisa terus diajarkan

6. Membiasakan kata ‘TOMAT’
Membiasakan kata ‘tolong’, ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ adalah kata yang ajaib yang memiliki makna yang dalam. Membiasakan anak sedari dini mengucapkannya akan membuatnya tumbuh menjadi anak yang mampu memahami orang lain. Apalagi jika ditambah dengan kemampuannya mendengarkan. Tentu ia akan menjadi pribadi yang ramah, hangat dan dihornati orang lain.

7. Keteladanan
Ayah dan Bunda…sebuah pepatah mengatakan Like Son Like Father. Orangtua adalah cermin bagi anak-anaknya. Ayah..tentu pernah punya pengalaman yang mengesankan dan terkadang lucu, karena tingkah si kecil yang tidak disadari telah menirukan perilaku ayah, seperti : gaya rambut, cara berjalan bahkan kebiasaan sehari-hari seperti gosok gigi sebelum tidur.Ini menunjukkan bahwa anak adalah saksi hidup terhadap tingkah laku orangtuanya. Jadi, jangan ragu lagi, mantapkan diri untuk menjadi contoh baik buat anak-anak.
Ayah dan bunda…semoga tips tadi bisa mengingatkan kita kembali untuk berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik buah hati tercinta menjadi anak yang memiliki akhlak mulia,. Anak-anak yang menyejukkan hati dengan ahlak yang memiliki rasa empati. Wallahu ‘alam(diolah dari berbagai sumber)
 Oleh : Ustad Fahrul Nur Hidayah, S.Pd.I
Salah satu cita-cita kita sebagai seorang anak adalah menjadi anak sholeh yang bisa membanggakan orang tua kita… tapi bagaimana caranya ya agar kita bisa menjadi anak sholeh?

1. Belajar tauhid aqidah
Tauhid adalah hal yang penting yang harus kita kenal sejak kecil. Tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapat keselamatan dunia akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid orang akan jatuh dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia dan kekekalan di dalam adzab neraka. Na’udzubillah….
Tauhid itu sendiri pada dasarnya mengenal Allah sebagai Tuhan kita yang tidak ada duanya dan Muhammad saw sebagai Rasul Nabi kita. Jika kita belajar tauhid kita bisa mencontoh orang-orang disekeliling kita seperti orang tua dan ustadz ustadzah dimulai dari menjalankan ibadah sholat dan doa-doa harian yang Rasulullah saw ajarkan kepada kita dalam hadits-hadits yang sohih.
Mau tidak kalu kita dimasukkan surga-Nya Allah SWT?
Kita akan mendapatkan semua jawaban dari apa yang kita lakukan kelak ketika kita mau yang pertama, mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW, belajar serta mengamalkan Al-Quran, belajar tentang kehidupan Rasulullah SAW dalam beribadah dan berakhlak. Perlu diingat bahwa apapun yang kita lakukan sesungguhnya Allah SWT Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Memperhatikan.

2. Menunaikan ibadah sesuai syariat Islam.
Kita sebagai anak diibaratkan kertas putih yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja. Oleh karena itu kertas itu haruslah ditulis dengan tulisan atau coretan-coretan yang baik agar kita menjadi anak yang baik. Mengisi kertas itu dengan cara kita melaksanakan apa yang orang tua kita laksanakan terutama mengenai masalah ibadah. Kita mencontoh apa yang dicontohkan oleh ustadz ustadzah yang diajarkan disekolah. Kita melakukan kewajiban kita kepada Allah. Kita juga harus memilih teman yang bisa memberikan coretan yang bagus pada kertas putih yang kita miliki. Meski awalnya susah, tapi coretan-coretan yang baik pasti akan menghasilkan karya yang baik. Setuju tidak?
Sholat merupakan Ibadah yang pertama kali dihisab dihari kiamat kelak, apabila sholat kita baik maka akan berdampak baik pada perilaku kita yang lain dari mulai sikap disiplin, jujur, rendah hati,  sholat merupakan bentuk cinta kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.  Sholat kita yang lima waktu bernilai sama dengan lima puluh waktu yang tadinya Allah wajibkan atas kita. Sudah tau belum?

Maka dari itu meski kadang kita malas untuk melakukan ibadah, kita paksakan dulu agar nantinya ibadah-ibadah tersebut akan menjadi kebiasaan baik bagi diri kita dan jangan lupa belajar supaya ibadah kita berdasarkan apa yang Allah SWT dan Rasulullah SAW perintahkan.

3. Belajar Al-Quran, Hadits, serta Doa dan Dzikir
Mari kita syukuri diri kita karena berada di lingkungan yang menuntut kita untuk menghafal Al-Quran, Hadits, dan Doa. Coba kita lihat teman-teman sekeliling kita di luar lingkungan kita, apakah mereka paham doa sebelum makan? Apakah mereka tahu doa sebelum tidur? Belum tentu kan. Maka dari itu mumpung kita berada dilingkungan yang baik kita manfaatkan, kita hafalkan Al-Quran, Hadits, serta Doa dan Dzikir.
Tau tidak? Anak yang menghafalkan Al-Quran maka dia akan memberikan mahkota raja pada orang tuanya di akhirat nanti. Mau kan orang tua kita seperti itu? Makanya kita harus rajin menghafal Al-Quran.
Hadits yang kita pelajari juga penting agar kita tidak salah mencoretkan kertas putih kita, dan doa serta dzikir kita panjatkan agar kita senantiasa diberi perlindungan oleh Allah.

4. Belajar Adab dan Akhlaq yang Mulia
Setelah kita belajar Al-Quran dan Hadits, yuk mari kita berusahaha untuk mengamalkannya,  dengan membiasakan diri mengamalkan sedikit demi sedikit dari pelajaran yang telah kita dapat.  Kita sebagai anak harus membiasakan diri kita dalam menjalankan kebiasaan-kebiasaan positif, seperti makan dengan tangan kanan, mengucap basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucap salam, makan sambil duduk, dan masih banyak lagi. Selain itu kita juga harus bisa berlatih berkata jujur, berbakti pada orang tua kita, dermawan kepada sesama, menghormati orang yang lebih tua serta menyayangi orang yang lebih muda.
Jika kita punya hewan peliharaan dan tanaman, maka kita harus merawat dan menjaga mereka dengan baik, karena mereka juga adalah makhluk ciptaan Allah sama seperti kita.
Gimana, siap jadi anak sholeh????
Harus siap.. mulai dari sekarang kita ubah hidup kita, kita gores kertas putih kita dengan hal-hal positif.





Oleh: Alex Nanang Agus Sifa, S.Fil.I

Impian merupakan bahan bakar dalam melakukan berbagai aktivitas. Ia akan menjadi penyemangat dalam mengarungi kehidupan. Ia juga akan mengarahkan langkah kaki dan pikiran. Membimbing setiap tingkah laku bagi pemiliknya. Mengarahkan kemana ia akan berjalan dan menuju.
Yang dimaksud impian di sini bukanlah sekedar impian yang muncul ketika seseorang sedang nyenyak dalam tidurnya. Bukan bunga tidur yang datang begitu saja tanpa rencana dan kehendak manusia. Namun yang dimaksud di sini, impian sebagai sebuah cita-cita tinggi dalam hidup. Yang bisa mengantarkan siapa saja meraih apa yang diinginkannya. Inilah impian. Yang harus ditentukan sebelum tindakan. Yang harus direncanakan dan dipikirkan agar menjadi sebuah kenyataan.
Hidup berawal dari mimpi, demikian sebuah lirik lagu dari salah satu band ternama. Tanpa impian, seseorang akan merasakan kegersangan dalam hidup. Langkahnya selalu terombang-ambing tanpa tujuan. Hidupnya akan mengikuti arus tanpa tahu kemana akan bermuara. Ibarat sampah di tengah lautan, terbawa arus air yang tertiup angin dan lama kelamaan akan terpinggirikan.
Pepatah Barat pernah mengatakan bahwa seseorang yang hidup tanpa impian dan ambisi laksana burung tanpa sayap (man without ambition is like a bird without wings). Burung yang tak bersayap akan merasakan kesulitan dalam hidupnya. Ia akan kebingungan dalam hari-hari yang dilaluinya. Begitu juga seseorang yang tidak memiliki sayap impian. Ia akan merasakan kegersangan dalam menjalani kehidupan. Padahal untuk bermimpi kita tidak membutuhkan modal materi, tapi kenapa diantara kita masih merasa enggan untuk bermimpi?. Jika impian saja kita tidak memilikinya, lalu bagaimana dengan yang lainnya?. Maka pantaslah jika Zig Ziglar pernah mengatakan: “orang miskin adalah orang yang tidak punya impian.”
Kenapa ada orang yang sudah bisa naik ke bulan? Karena sebelumnya ada orang yang memimpikannya, Neil Amstrong buktinya. Kenapa ada komputer? Karena pernah ada yang memimpikannya, Bill Gate tokohnya. Kenapa ada lampu? Karena ada yang pernah memimpikannya, Thomas Alfa Edison contohnya. Kenapa ada pesawat terbang? Karena ada yang memimpikannya, Wright orangnya, walaupun terkadang impian tersebut terkadang ditentang oleh banyak orang, seperti misalnya yang pernah dialami pencetus pesawat terbang, Wright. Ketika ia mengungkapkan impiannya, tiba-tiba kakeknya berkata: “tidak mungkin manusia bisa terbang.” Karena memang itulah yang diyakini banyak orang sejak dulu. Akan tetapi Wright tidak berhenti dalam mengejar mimpinya. Ia terus berusaha mewujudkan impiannya itu sehingga menjadi kenyataan. Dan pada akhirnya, sesuatu yang sebelumnya terlihat tidak mungkin bagi kebanyakan orang menjadi mungkin setelah ia berhasil menciptakan pesawat terbang.

Begitu juga yang dialami oleh penemu Windows, Bill Gate. Windows merupakan sistem operasi komputer nomor satu di dunia dan Bill Gate menjadi orang terkaya di dunia. Ia pernah bermimpi jika suatu saat di setiap rumah akan terdapat komputer. Dan ia yakin bahwa impiannya tersebut suatu saat akan terwujud menjadi sebuah kenyataan. Alasannya terangkum dalam kalimatnya: “komputer akan mempermudah semua pekerjaan, karena akan tiba waktunya semua orang bekerja dengan komputer dan kebutuhan akan komputer akan terus berkembang seiring dengan peradaban dan siapa saja yang menguasai pertumbuhan teknologi komputer maka ia akan menguasai dunia.” Dan saat ini kita bisa melihat bahwa impian Bill Gate tersebut sudah mulai terbukti. Memang kemustahilan itu akan menjadi ketidakmustahilan setelah mewujud ke dalam kenyataan.

Hidup yang penuh dengan tantangan ini akan menjadi terasa hampa bila tidak ada impian. Pelajar menjadi malas dalam belajar, datang ke sekolah hanya setor muka. Ia tidak pernah memperhatikan dengan baik penjelasan dari gurunya. Terkadang lebih sering mengajak temannya ngobrol dan keluar masuk kelas. Saat-saat tertentu berbuat onar dan kegaduhan ketika tidak ada guru yang mengawasinya.

Begitu pula aktivitas yang lainnya. Bila tak pernah memiliki impian dan cita-cita ingin menjadi lebih baik dari hari ke hari maka selamanya tidak akan ada perubahan yang berarti. Bahkan bisa jadi kehidupannya akan lebih buruk dan semakin sangat memprihatinkan serta memberatkan orang-orang yang ada disekitarnya. Imam Abu Hanifah pernah mengatakan; “Gantunglah cita-cita (impian)mu di tempat yang tinggi supaya ia tidak dapat dimusnahkan oleh orang lain kerana cita-cita (impian) itu adalah sumber kekuatan perjuangan yang tidak terhingga dari segi zahir dan batinnya.”
Seorang pelajar dengan adanya impian di dalam dirinya akan menjadi termotivasi dalam belajar. Guru menjadi lebih bergairah dalam memberikan pengajaran. Pedagang menjadi lebih bersemangat mencari keuntungan. Seorang karyawan senantiasa terpacu untuk bekerja secara profesional. Atau apapun diri kita dalam kehidupan sehari-hari akan senantiasa tampil lebih baik, wajah tampak berseri dan memancarkan sinar kebahagiaan. Semua itu bermula dengan impian.

Orang-orang yang sudah merasakan kesuksesan adalah mereka yang dulunya memulai kesuksesannya dari titik mimpi. Ketika seseorang sudah berani bermimpi, maka tak ada lagi kata gengsi. Impian akan menjadi pendorong bagi dirinya untuk berbuat dan bertindak lebih banyak. Hari-harinya akan diliputi dengan semangat dan setiap geraknya akan lebih bermanfaat. “Kun himmataka fi ats-atsuraya wa rijlaka fi ats-tsara” (Jadikan cita-cita (impian)mu setinggi bintang Tsuraya walau kakimu masih berpijak di bumi).